Hari ini kita akan memulai materi Pendidikan Agama Islam yaitu:
Ketentuan dan Tata Cara Shalat Jumat, Dhuha dan Tahajud
Sebelum memulai ke dalam materi pembelajaran, silahkan anak-anak terlebih dahulu perhatikan video di bawah tentang materi kita pada hari ini
A. Shalat Jumat
Salat Jumat adalah salat dua rakaat yang dilakukan pada waktu zuhur hari Jumat. Salat Jumat didahului dengan dua khutbah. Salat Jumat hukumnya fardu ain (kewajiban setiap orang). Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-Jumu'ah/62: 9 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Jumu’ah/62: 9).
Salat Jumat dilakukan secara berjemaah. Salat Jumat dinilai sah jika yang berjemaah sebanyak 40 orang. Mereka termasuk orang-orang yang wajib salat Jumat. Sebagian ulama mencukupkan jumlah paling sedikit salat jemaah Jumat sebanyak 12 orang. Ada juga yang menyatakan cukup 3 orang. Betapa pentingnya salat Jumat. Kalian harus rajin mendirikan salat Jumat. Berikut ini syarat wajib melaksanakan shalat Jumat:
1. Muslim
2. Laki-laki
3. Merdeka
4. Baligh dan berakal sehat (mukallaf)
5. Penduduk tetap (mukim)
6. Bebas dari halangan yang dibenarkan agama (sakit atau bertugas)
Demikian juga cuaca yang tidak bersahabat, seperti hujan lebat, terik panas matahari atau dingin yang menyengat. Termasuk juga halangan yang dibenarkan adalah rasa takut terhadap diri bahkan harta yang dikhawatirkan hilang.
Bagaimana dengan perempuan, anak-anak, dan orang yang sedang berada dalam perjalanan jauh? Apakah mereka wajib mengerjakan salat Jumat?
Tidak wajib mengerjakan salat Jumat bagi: 1) perempuan, 2) anak kecil, 3) orang yang sakit, dan 4) musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan jauh (+ 85 km) untuk keperluan yang dibolehkan agama. Mereka tidak wajib mengerjakan salat Jumat namun tetap wajib melakukan salat Zuhur. Jika mereka ikut mendirikan salat Jumat, maka salatnya sah. Kewajiban salat Zuhur bagi mereka menjadi gugur.
Sunnah shalat Jumat:
Tata cara Shalat jumat:
1. Menyegerakan pergi ke masjid untuk shalat Jumat.
2. Masuk ke masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan membaca do'a masuk masjid
3. Menjaga adab di dalam masjid antara lain: a) menjaga kebersihan dan tidak mengotori masjid; b) tidak berdiam diri bagi orang yang sedang junub dan haid.
4. Dianjurkan melakukan shalat sunah Tahiyatul Masjid. Shalat Tahiyatul Masjid adalah shalat dua rakaat yang dikerjakan sebagai penghormatan ketika kita memasuki masjid.
5. Dianjurkan melakukan shalat sunah lain sebelum azan dikumandangkan.
6. Ketika masuk waktu shalat Zuhur, muazin mengumandangkan adzan. Bagaimana sikap kalian jika mendengar adzan?
Ada masjid dengan muazin yang mengumandangkan satu kali adzan shalat Jumat. Ada juga yang mengumandangkan dua kali adzan.
Pada masjid yang mengumandangkan dua kali adzan, setelah adzan pertama, jemaah diberi kesempatan untuk melakukan shalat sunah qabliyah Jumat. Selanjutnya muazin mengumandangkan adzan kedua.
7. Khatib menyampaikan dua khutbah di atas mimbar sambil berdiri. Khutbah pertama dan kedua dipisahkan dengan khatib duduk. Ketika khatib duduk, jemaah dianjurkan untuk berdoa. Waktu antara dua khutbah termasuk waktu mustajab untuk berdoa.
8. Setelah khatib selesai berkhutbah, muazin mengumandangkan iqomah.
9. Dalam pelaksanaan shalat berjamaah, meluruskan dan merapatkan shaf (barisan) merupakan keutamaan dan kesempurnaan shalat berjamaah, termasuk dalam shalat jamaah Jumat.
10. Shalat Jumat dua rakaat dilaksanakan secara berjamaah dipimpin oleh seorang imam. Tata cara salat Jumat sama dengan salat fardu lain. Berikut niat salat Jumat:
11. Zikir dan berdoa sesudah salat Jumat.
B. Shalat Dhuha
Shalat Dhuha termasuk shalat sunah muakkad menurut sebagian ulama. Shalat sunah muakkad artinya shalat yang sangat dianjurkan untuk didirikan. Shalat Duha termasuk shalat sunah yang tidak pernah ditinggalkan Nabi Muhammad saw. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) berpesan kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal nanti. Yaitu puasa tiga hari setiap bulan, salat Duha, dan tidur dalam keadaan sudah mengerjakan Salat Witir." (H.R. Bukhari)
Shalat Dhuha dilakukan pada waktu dhuha. Waktu dhuha adalah waktu menjelang tengah hari. Sejak matahari mulai naik dan terasa panas hingga menjelang waktu zuhur.
Tata Cara Shalat Dhuha:
1. Berwudu dan melakukan persiapan salat dengan memperhatikan kesucian badan, pakaian, dan tempat.
2. Kalian boleh membiasakan shalat Dhuha berjemaah ketika di sekolah dengan guru dan teman-teman. Boleh juga berjemaah dengan orang tua di rumah. Shalat Dhuha dianjurkan dilakukan sendiri ketika di rumah.
3. Niat shalat Dhuha.
4. Takbiratulihram
5. Membaca Q.S. al-Fatihah/1.
6. Membaca Q.S. asy-Syams/91 atau al-Kafirun/109 setelah al-Fatihah pada rakaat pertama.
7. Melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti salat fardu.
8. Membaca Q.S. al-Fatihah/1.
9. Membaca Q.S. ad-Duha/93 atau al-Ikhlas/112 setelah al-Fatihah pada rakaat kedua.
10. Melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti salat fardu.
11. Duduk dan membaca tasyahud akhir.
12. Salam.
13. Salat Duha dilakukan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak delapan rakaat. Ada juga ulama yang berpendapat paling banyak dua belas rakaat.
14. Membaca doa sesudah salat Duha.
C. Shalat Tahajud
Shalat Tahajud termasuk shalat sunah muakkad. Ingatkah kalian shalat sunah muakkad? Shalat Tahajud termasuk salat yang tidak pernah ditinggalkan Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw memiliki kebiasaan tidur di awal malam setelah shalat Isya. Beliau bangun di pertengahan malam untuk melakukan shalat Tahajud. Nabi ditanya seseorang, “Shalat manakah yang paling utama setelah shalat yang diwajibkan (salat lima waktu).” Rasulullah saw. menjawab, “Shalat Tahajud.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah r.a)
Tata Cara Shalat Tahajud:
1. Berwudu dan melakukan persiapan salat dengan memperhatikan kesucian badan, pakaian, dan tempat.
2. Niat shalat Dhuha.
3. Takbiratulihram.
4. Membaca Q.S. al-Fatihah/1.
5. Membaca Q.S. al-Kafirun/109 setelah al-Fatihah pada rakaat pertama.
6. Melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti salat fardu.
7. Membaca Q.S. al-Fatihah/1. 8. Membaca Q.S. al-Ikhlas/112 setelah al-Fatihah pada rakaat kedua.
9. Melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti salat fardu.
10. Duduk dan membaca tasyahud akhir.
11. Salam.
12. Shalat Tahajud dilakukan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak tidak terbatas. Shalat Tahajud diakhiri dengan shalat Witir (shalat dengan bilangan rakaat ganjil). Nabi Muhammad saw mengerjakan salat Tahajud tidak lebih dari 11 atau 13 rakaat dengan shalat Witir.
13. Membaca doa sesudah shalat Tahajud.
Demikian pembelajaran kita hari ini, semoga apa yang Ibu sampaikan dapat bermanfaat untuk kita semua... Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Marilah kita tutup dengan mengucapkan lafadz Hamdallah
Hari ini kita akan memulai materi Pendidikan Agama Islam yaitu:
Ketentuan dan Tata Cara Shalat Jumat, Dhuha dan Tahajud
Sebelum memulai ke dalam materi pembelajaran, silahkan anak-anak terlebih dahulu perhatikan video di bawah tentang materi kita pada hari ini
A. Shalat Jumat
Salat Jumat adalah salat dua rakaat yang dilakukan pada waktu zuhur hari Jumat. Salat Jumat didahului dengan dua khutbah. Salat Jumat hukumnya fardu ain (kewajiban setiap orang). Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-Jumu'ah/62: 9 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Jumu’ah/62: 9).
Salat Jumat dilakukan secara berjemaah. Salat Jumat dinilai sah jika yang berjemaah sebanyak 40 orang. Mereka termasuk orang-orang yang wajib salat Jumat. Sebagian ulama mencukupkan jumlah paling sedikit salat jemaah Jumat sebanyak 12 orang. Ada juga yang menyatakan cukup 3 orang. Betapa pentingnya salat Jumat. Kalian harus rajin mendirikan salat Jumat. Berikut ini syarat wajib melaksanakan shalat Jumat:
1. Muslim
2. Laki-laki
3. Merdeka
4. Baligh dan berakal sehat (mukallaf)
5. Penduduk tetap (mukim)
6. Bebas dari halangan yang dibenarkan agama (sakit atau bertugas)
Demikian juga cuaca yang tidak bersahabat, seperti hujan lebat, terik panas matahari atau dingin yang menyengat. Termasuk juga halangan yang dibenarkan adalah rasa takut terhadap diri bahkan harta yang dikhawatirkan hilang.
Bagaimana dengan perempuan, anak-anak, dan orang yang sedang berada dalam perjalanan jauh? Apakah mereka wajib mengerjakan salat Jumat?
Tidak wajib mengerjakan salat Jumat bagi: 1) perempuan, 2) anak kecil, 3) orang yang sakit, dan 4) musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan jauh (+ 85 km) untuk keperluan yang dibolehkan agama. Mereka tidak wajib mengerjakan salat Jumat namun tetap wajib melakukan salat Zuhur. Jika mereka ikut mendirikan salat Jumat, maka salatnya sah. Kewajiban salat Zuhur bagi mereka menjadi gugur.
Sunnah shalat Jumat:
Tata cara Shalat jumat:
1. Menyegerakan pergi ke masjid untuk shalat Jumat.
2. Masuk ke masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan membaca do'a masuk masjid
3. Menjaga adab di dalam masjid antara lain: a) menjaga kebersihan dan tidak mengotori masjid; b) tidak berdiam diri bagi orang yang sedang junub dan haid.
4. Dianjurkan melakukan shalat sunah Tahiyatul Masjid. Shalat Tahiyatul Masjid adalah shalat dua rakaat yang dikerjakan sebagai penghormatan ketika kita memasuki masjid.
5. Dianjurkan melakukan shalat sunah lain sebelum azan dikumandangkan.
6. Ketika masuk waktu shalat Zuhur, muazin mengumandangkan adzan. Bagaimana sikap kalian jika mendengar adzan?
Ada masjid dengan muazin yang mengumandangkan satu kali adzan shalat Jumat. Ada juga yang mengumandangkan dua kali adzan.
Pada masjid yang mengumandangkan dua kali adzan, setelah adzan pertama, jemaah diberi kesempatan untuk melakukan shalat sunah qabliyah Jumat. Selanjutnya muazin mengumandangkan adzan kedua.
7. Khatib menyampaikan dua khutbah di atas mimbar sambil berdiri. Khutbah pertama dan kedua dipisahkan dengan khatib duduk. Ketika khatib duduk, jemaah dianjurkan untuk berdoa. Waktu antara dua khutbah termasuk waktu mustajab untuk berdoa.
8. Setelah khatib selesai berkhutbah, muazin mengumandangkan iqomah.
9. Dalam pelaksanaan shalat berjamaah, meluruskan dan merapatkan shaf (barisan) merupakan keutamaan dan kesempurnaan shalat berjamaah, termasuk dalam shalat jamaah Jumat.
10. Shalat Jumat dua rakaat dilaksanakan secara berjamaah dipimpin oleh seorang imam. Tata cara salat Jumat sama dengan salat fardu lain. Berikut niat salat Jumat:
11. Zikir dan berdoa sesudah salat Jumat.
B. Shalat Dhuha
Shalat Dhuha termasuk shalat sunah muakkad menurut sebagian ulama. Shalat sunah muakkad artinya shalat yang sangat dianjurkan untuk didirikan. Shalat Duha termasuk shalat sunah yang tidak pernah ditinggalkan Nabi Muhammad saw. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) berpesan kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal nanti. Yaitu puasa tiga hari setiap bulan, salat Duha, dan tidur dalam keadaan sudah mengerjakan Salat Witir." (H.R. Bukhari)
Shalat Dhuha dilakukan pada waktu dhuha. Waktu dhuha adalah waktu menjelang tengah hari. Sejak matahari mulai naik dan terasa panas hingga menjelang waktu zuhur.
Tata Cara Shalat Dhuha:
1. Berwudu dan melakukan persiapan salat dengan memperhatikan kesucian badan, pakaian, dan tempat.
2. Kalian boleh membiasakan shalat Dhuha berjemaah ketika di sekolah dengan guru dan teman-teman. Boleh juga berjemaah dengan orang tua di rumah. Shalat Dhuha dianjurkan dilakukan sendiri ketika di rumah.
3. Niat shalat Dhuha.
4. Takbiratulihram
5. Membaca Q.S. al-Fatihah/1.
6. Membaca Q.S. asy-Syams/91 atau al-Kafirun/109 setelah al-Fatihah pada rakaat pertama.
7. Melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti salat fardu.
8. Membaca Q.S. al-Fatihah/1.
9. Membaca Q.S. ad-Duha/93 atau al-Ikhlas/112 setelah al-Fatihah pada rakaat kedua.
10. Melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti salat fardu.
11. Duduk dan membaca tasyahud akhir.
12. Salam.
13. Salat Duha dilakukan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak delapan rakaat. Ada juga ulama yang berpendapat paling banyak dua belas rakaat.
14. Membaca doa sesudah salat Duha.
C. Shalat Tahajud
Shalat Tahajud termasuk shalat sunah muakkad. Ingatkah kalian shalat sunah muakkad? Shalat Tahajud termasuk salat yang tidak pernah ditinggalkan Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw memiliki kebiasaan tidur di awal malam setelah shalat Isya. Beliau bangun di pertengahan malam untuk melakukan shalat Tahajud. Nabi ditanya seseorang, “Shalat manakah yang paling utama setelah shalat yang diwajibkan (salat lima waktu).” Rasulullah saw. menjawab, “Shalat Tahajud.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah r.a)
Tata Cara Shalat Tahajud:
1. Berwudu dan melakukan persiapan salat dengan memperhatikan kesucian badan, pakaian, dan tempat.
2. Niat shalat Dhuha.
3. Takbiratulihram.
4. Membaca Q.S. al-Fatihah/1.
5. Membaca Q.S. al-Kafirun/109 setelah al-Fatihah pada rakaat pertama.
6. Melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti salat fardu.
7. Membaca Q.S. al-Fatihah/1. 8. Membaca Q.S. al-Ikhlas/112 setelah al-Fatihah pada rakaat kedua.
9. Melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti salat fardu.
10. Duduk dan membaca tasyahud akhir.
11. Salam.
12. Shalat Tahajud dilakukan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak tidak terbatas. Shalat Tahajud diakhiri dengan shalat Witir (shalat dengan bilangan rakaat ganjil). Nabi Muhammad saw mengerjakan salat Tahajud tidak lebih dari 11 atau 13 rakaat dengan shalat Witir.
13. Membaca doa sesudah shalat Tahajud.
Demikian pembelajaran kita hari ini, semoga apa yang Ibu sampaikan dapat bermanfaat untuk kita semua... Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Marilah kita tutup dengan mengucapkan lafadz Hamdallah
I Hope you will be fine and good😊 Jangan lupa melafadzkan Basmallah dan membaca do’a!
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Apersepsi
Sholih sholiha bu guru bagaimana kabarnya? Apakah liburannya menyenangkan?
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan oleh Allah Swt dan kita semua harus tetap semangat dalam pembelajaran ya nakk!...😊
Baik, Ananda Sholih dan Sholiha Ibu Lena
Sebelum memulai pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada pagi hari ini, pastikan anak-anak sekalian sudah mendengarkan tausiah, melaksanakan sholat Dhuha dan tadarus Al-Qur'an yaa…
Alhamdulillah... Hari ini kita di pertemukan kembali dalam keadaan sehat wal 'afiyat. Di pertemuan pertama setelah kita libur lebaran Idul Fitri ini Ibu guru ucapkan terimakasih banyak atas semangat serta antusias yang telah ananda lakukan.
Okee, pada pertemuan sebelumnya anak-anak Bu Lena sudah sangat luar biasa dapat memahami materi tentang mengenal harokat Tanwin, maka dari itu apa yang sudah kita pelajari jangan lupa untuk selalu kita ingat serta kita gunakan cara membaca al-Qur'an yang baik dan benar sesuai dengan hukum tajwid.
Nah itu tadi sebagai pembuka dari Bu Lena, selanjutnya pada kesempatan kali ini ibu akan memulai materi pada semester genap di BAB yang ke 4 ialah tentang:
Membiasakan Hidup Bersih dan Bersuci (Thaharah)
Sebelum memulai ke dalam materi pembelajaran, silahkan anak-anak terlebih dahulu perhatikan video di bawah tentang materi kita pada hari ini
A. Hidup Bersih
Membiasakan diri untuk bersikap bersih merupakan suatu kewajiban bagi umat manusia. sebagaimana Rasulullah SAW bersabda "Kebersihan adalah sebagian dari Iman". Allah SWT pun cinta terhadap orang-orang yang menjaga kebersihan. berikut ini beberapa contoh perilaku menjaga kebersihan yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari :
1. Membersihkan kotoran dengan air, jika tidak ada air diperbolehkan menggunakan tissu atau batu.
2. Mandi sehari 2 kali, serta menggosok gigi setiap pagi dan malam.
3. Memotong kuku yang panjang.
4. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air yang mengalir.
5. Mengganti pakaian yang kotor dan harus segera dicuci.
6. Membersihkan tempat tidur.
7. Merapihkan mainan setelah bermain.
8. Meletakkan sepatu dan sandal pada tempatnya.
B. Bersuci
Bersuci disebut juga dengan Taharah. Bersuci adalah membersihkan diri dari hadas atau najis. Hadas adalah, kondisi keadaan diri seorang muslim yang menyebabkan mereka tidak boleh melakukan suatu ibadah. contoh: BAB, BAK, dan Buang Angin. Najis adalah, suatu benda yang kotor dan melekat pada diri seseorang ataupun lingkungan sehingga menyebabkan tidak sahnya pekerjaan ibadah. Contoh: Darah, kotoran dan bangkai.
Adapun cara bersuci dari hadas yaitu dengan wudhu dan mandi, sedangkan bersuci dari najis yaitu dengan cara menghilangkan wujud najis tersebut.
C. Berwudhu
Sebelum shalat, kita harus berwudhu. Kita berwudhu menggunakan air suci dan menyucikan. Kita harus tertib dalam berwudhu. Tertib artinya berurutan sesuai tata cara wudhu. Berikut ini adalah tata cara berwudu:
D. Tayamum
Tayamum adalah pengganti wudhu. Kita boleh bertayamum jika tidak menemukan air. Kalau sakit, kita juga boleh bertayamum. Tayamum diawali dengan niat. Kita bertayamum menggunakan debu yang suci. Kita harus bertayamum dengan tertib. Berikut ini adalah tata cara tayamum:
Demikian pembelajaran kita hari ini, semoga apa yang Ibu sampaikan dapat bermanfaat untuk kita semua... Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Marilah kita tutup dengan mengucapkan lafadz Hamdallah
Hari ini kita akan memulai materi Pendidikan Agama Islam yaitu:
Sifat Wajib dan Sifat Mustahil bagi Rasul
Sebelum memulai ke dalam materi pembelajaran, silahkan anak-anak terlebih dahulu perhatikan video di bawah tentang materi kita pada hari ini
SIFAT WAJIB BAGI RASUL
1). Shiddiq
Shiddiq memiliki arti benar. Maksudnya ialah, setiap ucapan para Rasul sudah pasti bersifat benar. Baik itu wahyu yang diturunkan kepadaNya, maupun hal-hal yang berkaitan dengan persoalan dunia, sudah pasti bersifat benar. Dijelaskan dalam QS. Maryam ayat 41:
Artinya, “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan, seorang Nabi.”
2). Amanah
Amanah artinya dapat dipercaya. Untuk menjaga kepercayaan umat atas dirinya, Rasul senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan yang berkaitan dengan dosa. Fakta bahwasanya Rasul bersifat amanah, telah dibuktikan melalui terjemahan surah an-Nisa ayat 58. Oleh karenanya, mustahil rasanya seorang Rasul dapat berbuat khianat.
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS an-Nisa: 58)
3). Tabligh
Sebagai pemimpin umat Muslim, seorang Rasul diperintahkan agar menyampaikan wahyu yang diterimaNya kepada seluruh umatNya. Sifat wajib Rasul tersebut dinamakan Tabligh. Tabligh memiliki arti yaitu menyampaikan wahyu. Saat menjalankan tugasnya, Rasul akan menyampaikan wahyu apapun tanpa melewatkan satu huruf pun. Baik wahyu yang berupa kabar baik, kabar buruk, pengetahuan, syariat, dsb, akan senantiasa Rasul sampaikan.
“Wahai Rasul” Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS al-Maidah: 67).
4). Fathonah
Sifat wajib Rasul yang terakhir ialah fathonah, yang bermakna cerdas, pandai, serta bijaksana. Sebagai utusan Allah, seorang Rasul mampu menangani berbagai permasalahan umatNya sekaligus memberikan jalan keluarnya. Allah SWT memberikan anugerah kepada Rasul ketika menyampaikan ajaran bagi kaumNya. Temasuk ketika adanya argumentasi perdebatan suatu kaum yang menyinggung ajaranNya. Hal ini rupanya telah disinggung dalam surah al-An’am ayat 83,
“Dan itulah keterangan Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana, Maha Mengetahui.”
SIFAT MUSTAHIL BAGI RASUL
1). Kidzib
Al-Kidzib artinya yakni berdusta. Mustahil bagi rasul untuk melakukan dusta atau bohong. Semua perkataan dan juga perbuatan rasul tidak pernah palsu dan mengada-ada. Hal ini telah ditegaskan melalui surah an-Najm: 2-4, berikut ini:
Artinya: “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, dan tidaklah yang diucapkan itu (al-Qur’ān) menurut keinginannya tidak lain (al-Qur’an) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm: 2-4)
2). Khianat
Khianat, artinya yaitu mustahil bagi rasul untuk berkhianat. Semua yang diamanatkan kepadanya pasti akan dilaksanakan. Hal ini telah dijelaskan di dalam surat al-An’am ayat 106:
Artinya: “Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad), tidak ada Tuhan selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. al-An’am: 106).
3). Kitman
Kitman, berarti mustahil jika rasul menyembunyikan kebenaran. Setiap firman yang rasul terima dari Allah SWT pasti akan disampaikan kepada para umatnya. Hal ini juga telah disebutkan dalam surat al-An’am ayat 50:
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang di wahyukan kepadaku. Katakanlah, Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya).” (QS. al-An’am: 50)
4). Baladah
Baladah berarti mustahil apabila rasul itu bodoh. Rasulullah memanglah merupakan orang yang ummi (tak dapat membaca dan menulis) tetapi beliau diberikan anugerah kecerdasan yang luar biasa dari Allah SWT.
TUGAS : KERJAKAN LATIHAN SOAL DI MODUL PAI HALAMAN 22 - 24
Demikian pembelajaran kita hari ini, semoga apa yang Ibu sampaikan dapat bermanfaat untuk kita semua. Marilah kita tutup dengan mengucapkan lafadz Hamdallah
Hari ini kita akan memulai materi Pendidikan Agama Islam yaitu:
Memahami makna beriman kepada Rasul-Rasul Allah Swt
Sebelum memulai ke dalam materi pembelajaran, silahkan anak-anak terlebih dahulu perhatikan video di bawah tentang materi kita pada hari ini
A. Pengertian Iman
Iman kepada rasul merupakan salah satu pilar yang terdapat dalam rukun iman dalam Islam. Selain diimani, para rasul juga mesti dijadikan teladan oleh umat manusia dalam menjalani kehidupan. Hal ini sejalan dengan tujuan Allah Swt. mengutus rasul-rasul-Nya, yakni untuk dijadikan teladan dan contoh bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada diri rasul itu suri teladan yang baik bagimu,” (al-Ahzāb [33]: 21).
Iman kepada rasul-rasul Allah artinya meyakini bahwa rasul merupakan utusan Allah Swt., yang ditugaskan membimbing umatnya ke jalan kebenaran agar selamat di dunia dan akhirat. Beriman kepada rasul-rasul Allah merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim. Umat Islam juga wajib mengimani ajaran yang dibawa para rasul melalui kitab suci. Perintah beriman kepada rasul Allah terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 136. “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya [Muhammad] dan kepada Kitab [Al-Qur’ān] yang diturunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh,” (Q.S. An-Nisā [4]: 136).
Kandungan ayat tersebut menjelaskan bahwa salah satu poin keimanan dalam Islam adalah meyakini rasul-rasul Allah. Secara definisi, rasul adalah manusia pilihan Allah Swt. yang diangkat sebagai utusan untuk menyampaikan firman-Nya kepada umat manusia supaya dijadikan sebagai pedoman hidup. Sementara itu, yang dimaksud dengan nabi adalah manusia pilihan yang diberikan wahyu oleh Allah Swt. untuk dirinya sendiri dan tidak berkewajiban menyampaikan kepada umatnya.
Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Abi Zar ra., saat ditanya tentang jumlah para nabi, Rasulullah menjawab: “Jumlah para nabi itu adalah 124.000, sedangkan jumlah rasul adalah 312.”
B. Makna Iman Kepada Rasul-Rasul Allah
Dengan beriman kepada Rasul Allah, artinya, seorang muslim meyakini bahwa kenabian bukanlah tujuan atau prestasi yang bisa dicapai oleh orang biasa. Kenabian bukan bukan pula merupakan pangkat yang bisa ditempuh dengan berjuang. Kenabian merupakan kedudukan tinggi dan pangkat istimewa yang dianugerahkan oleh Allah. Sosok nabi dan rasul ditunjuk oleh Allah sesuai yang dikehendaki-Nya. Pada dasarnya, iman kepada nabi dan rasul tidak bisa dilepaskan dari rukun iman lainnya. Di antaranya iman kepada Allah, malaikat, kitab, hari kiamat, serta qada dan qadar. Hal ini lantaran rukun iman saling berkaitan. Misalnya, kitab Allah diturunkan kepada rasul. Isinya ialah ajaran Islam, mulai dari pengetahuan soal malaikat, hari kiamat, juga qada dan qadar.
C. Cara beriman kepada Rasul Allah
Iman kepada nabi dan rasul tidak hanya ada di dalam hati. Seorang muslim yang mengimani rasul Allah semestinya juga mewujudkan keyakinan tersebut melalui tindakan. Contoh iman kepada rasul dalam bentuk perilaku sehari-hari ialah tidak menjaga lisannya. Hal ini lantaran rasul mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan. Berikut beberapa cara iman kepada rasul dalam kehidupan sehari-hari:
1. Cara iman kepada rasul salah satunya ialah selalu belajar dengan tekun sepanjang hayat, meneladani sifat rasul Allah, yakni fathonah 'cerdas'.
2. Contoh iman kepada rasul juga bisa berupa penerapan tingkah laku baik kepada sesama, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah.
3. Contoh iman kepada rasul juga mencakup perilaku tidak berkata dusta karena rasul memiliki sifat terpercaya alias amanah.
4. Cara iman kepada rasul yang lainnya ialah berusaha meneladani perilaku sehari-hari. Kita bisa menerapkan cara iman kepada rasul dengan membaca dan mengikuti hadis sahih.
Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti oleh Kemendikbud (2017), beriman kepada para rasul Allah memberikan manfaat dan hikmah kepada umat Islam. Beberapa manfaat dan hikmah beriman kepada rasul yakni: 1.) Menjadi sebuah motivasi untuk melakukan perilaku sosial yang baik dalam masyarakat; 2.) Tidak akan kehilangan arah dalam contoh manusia yang baik; 3.) Menghadirkan mahabbah 'rasa cinta' kepada para rasul dan mulai mencontoh perilaku-perilaku terpujinya; 4.) Mengetahui hakikat hidup seorang manusia, yaitu untuk taat beribadah kepada Allah Swt.
Demikian pembelajaran kita hari ini, semoga apa yang Ibu sampaikan dapat bermanfaat untuk kita semua. Marilah kita tutup dengan mengucapkan lafadz Hamdallah
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate another link velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur.